Sop Buntut Tombo Kangen

Persiapan perang

Selama hidup jauh dari Indonesia, tantangan terberat hanyalah tentang makanan saja. Di Jogja terbiasa mudah untuk mendapatkan makanan kesukaan dan yang paling penting ya murah meriah. Di Amsterdam hanya bisa ngiler setiap membaca berita kuliner dari media Indonesia.

Memang di Belanda, Amsterdam khususnya banyak bertebaran warung makan Indonesia ataupun yang mendekati seperti Suriname dan chinese food, tapi untuk rasa tidak bisa berharap banyak. Jika kalian pecinta makanan Indonesia tradisional dan kaki lima, jangan berharap banyak untuk mendapatkan rasa yang pas ketika berkunjung ke restaurant Indonesia di Belanda. Selanjutnya khusus untuk tentang restauran Indonesia akan saya buat reportase tersendiri.

Ulekan

Karena makanan yang paling utama untuk mengobati rasa kangen, maka setiap hari libur saya selalu meluangkan waktu untuk memasak spesial masakan Indonesia. Pilihan jatuh pada jenis masakan yang berkuah, bisa soto ataupun sop. Yang saya kuasai selama ini ya membuat sop buntut, selain karena resepnya relatif mudah dan juga bahan bakunya mudah didapat. Untuk resep silahkan cek sendiri via google, sisanya tinggal improvisasi saja.

Sebenarnya untuk memasak sop buntut sangatlah mudah, hanya diperlukan sekitar 30 menit persiapan dan sisanya bisa ditinggal untuk mendapatkan buntut yang empuk, saya sendiri memasak dengan api yang kecil dan didiamkan selama 5 jam.

Di Belanda satu kilo buntut sapi bisa didapat dengan harga sekitaran 10 EUR, biasanya tiap supermarket sudah buat paketan sekitar 300-600 gram, tinggal pilih untuk mendapatkan di supermarket mana, yang beda hanya ukuran potongan buntutnya saja. Untuk bumbu pendampingnya mudah juga didapat di supermarket dan toko.

Siap dikunyah

Dilihat dari bahan-bahan isi sop buntut, seperti wortel, buncis dan kentang, kalau boleh dikira-kira merupakan warisan kolonial juga, disini akan disebut “ossenstaart soep”. Akan tetapi saya sendiri sampai sekarang belum pernah menemui menu ini ditawarkan baik di restaurant Indonesia juga Belanda. Mertua sayapun yang rajin memasak tidak pernah membuatnya akan tetapi mengetahuinya.

Okei, selamat wisata kuliner dan selamat makan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *