Pasar Waterlooplein, Pasar Maling di Amsterdam

Pasar Waterlooplein, jalan masuk dari arah Timur. Teguh Hartanto

Okei, sekarang saya akan mengulas tentang Pasar Waterlooplein, “pasar maling” ataupun pasar loak terbesar di Belanda yang terletak di kota Amsterdam, pasar loak yang dalam bahasa Belanda disebut rommelmarkt (kalau dalam bahasa pergaulan di jawa ada juga istilah pasar atau barang romelan) dan dalam bahasa Inggris bisa disebut fleamarket. Letaknya kira-kira kalau dari Centraal Station Amsterdam sekitar 2 km ke arah Selatan.

Suasana pagi disekitar pasar, Teguh hartanto

Barang second ataupun loak menjadi hal yang biasa di Negeri Belanda, malahan untuk sekedar jalan-jalan dan cuci mata, pasar loak menjadi pilihan utama warga Belanda kalau perbandingannya pergi ke mall. Nah untuk tempat penjualan barang loak bisa saja melalui pasar musiman untuk acara tertentu, contohnya baca tulisan saya disini dan disini ataupun yang menetep berbentuk toko yang menyerupai mall.

Di Belanda sangat mudah kita menjumpai tempat khusus untuk menjual barang second. Untuk bentuk toko atau mall yang menjual produk second disebut kringloopwingkel. Nanti pada artikel yang lain akan saya tulis tentang kringloopwingkel.

Kalau yang reguler buka sepanjang tahun dan berbentuk pasar terbuka adalah Pasar Waterlooplein. Pasar loak terbesar di Belanda, kalau untuk sejarahnya secara lengkap, silahkan google sendiri saja.

Pasar Waterlooplein dengan jejeran sepedanya, Teguh Hartanto

Pasar ini buka setiap hari Senen sampai Sabtu, dimulai sekitaran pukul 8 pagi para pedagang dan asistennya sudah mulai sibuk membangun dan menata lapak, lalu sekitaran pukul 5 sore waktunya berkemas.

Pasar Waterlooplein punya stereotype sebagai pasar maling karena banyaknya lapak khusus sepeda ditemui disini. Karena sepeda merupakan transportasi utama di negeri Belanda, otomatis tingkat pencurian sepedapun sangat tinggi, baca lebih lengkap tentang sepeda disini dan disini. Polisipun tidak akan menindaklanjuti laporan tentang pencurian sepeda, biasanya hanya menerima laporan saja tanpa adanya tindakan. Maka itulah Pasar Waterlooplein terkenal juga sebagai pasar maling karena dicurigai sebagai tempat menampung sepeda curian dan menjualnya kembali.

Suasana di dalam Pasar Waterlooplein, Teguh Hartanto

Yah, karena stereotype tentang sepeda itulah terkenal menjadi pasar maling, tapi ya hanya oknum saja yang seperti itu, yang lainnya saya pikir lebih banyak yang jujur tentang cara berdagangnya. Selain sepeda dan turunannya yang menjadi dagangan, Pasar Waterlooplein juga di ramaikan dengan Awul-awul (cari sendiri artinya apa), souvenir pernak pernik Amsterdam, barang antik, seni, sepatu dll.

Untuk harga barang yang dijual di Pasar Waterlooplein yah relatif murah meriah untuk warga Eropa, apalagi kalau tahu cara negoisasinya. Para pedagang juga melihat siapa yang akan membeli, apakah turis atau bukan. Tapi disini tidak ada unsur pemaksaan untuk urusan jual beli.

Dagangan untuk para Turis, Teguh Hartanto

Pasar Waterlooplein juga menjadi tujuan turis yang berkunjung ke kota Amsterdam, mereka sekedar melihat-lihat keunikan Pasar Waterlooplein yang menjadi gabungan pasar sepeda, awul-awul dan barang antik ataupun untuk sekedar membeli souvenir. Berdekatan dengan kawasan ini juga terdapat Museum Rembrandthuis (rumahnya Rembrandt van Rijn), kalau yang nggak tahu tentang Rembrandt, silahkan cari tahu dahulu tentang Raden Saleh.

Rumahnya Rembrandt dan pintu masuk pasar dari arah Utara, Teguh Hartanto

Para pedagang dan asisten yang meramaikan Pasar Waterlooplein terdiri dari banyak suku bangsa, diantaranya: tentu dari Belanda, Eropa Timur didominasi Polandia, yang dari Afrika diramaikan oleh Maroko, Ghana, Senegal, dari kawasan Amerika Selatan diwakili Chili, orang Asia kalau yang saya lihat orang-orang Nepal-India dan China. Lalu tentu Yahudi sesuai sejarah pasarnya dan tentu saja Indonesia dan Indo-indonya. Sudah rahasia umum mayoritas yang bekerja sebagai asisten ataupun tangan kanan sang punya lapak adalah para pekerja illegal. Yah inilah realita pasar dimanapun berada yang kehidupannya cendrung “keras”. Akan tetapi disini sangat minim tindak kriminal seperti pencopet dan sejenisnya.

Para pedagang adalah pedagang yang sudah teregristasi dan disetujui pemerintah, selanjutnya akan dikenakan biaya sekitar 15 euro untuk membayar lokasi berjualan setiap harinya, yah semacam pajak tempat, lalu untuk penyewaan lapak dan tenda dikenakan biaya sekitar 10 euro.

Penampakan orang Indonesia di Pasar Waterlooplein, Teguh Hartanto

Okei, begitu sekilas tentang wisata di kota Amsterdam, tunggu tulisannya berikutnya tentang kota Amsterdam dan kehidupannya, terimakasih.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *