Merokok Keretek di Belanda

Lokasi menikmati rokok sehari-hari. Teguh Hartanto

Sebagai seorang perokok lebih mudah menulis tentang rokok juga. Rokok dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari kata rook-roken dari bahasa Belanda, yang biasanya digunakan untuk mengartikan asap ataupun merokok. Pasangan rokok yaitu asbak juga asal katanya dari bahasa Belanda, ya “asbak”.

Di Indonesia sangat mudah untuk mendapatkan rokok dan tentu saja harganya murah. Di Belanda aturan untuk membeli rokok adalah 18 tahun ke atas, sama dengan usia minimal untuk boleh membeli alkohol dan ganja. Kalau pemakai, tentu sama saja dimanapun di belahan dunia ini, pasti ada yang sedikit nakal.

Harga sebungkus rokok, dimulai sekitaran 5 EUR, tergantung merk dan isi dalam satu bungkus, karena isi tiap bungkus rokok bermacam jumlah, ada yang 19 sampai 27 batang perbungkus. Bagi pecandu berat biasanya membeli tipe linting dewe, yang juga tersedia dalam banyak pilihan merk. Tetapi tentu yang dijual di Belanda hanya jenis rokok putih saja.

Sebagai penikmat rokok jenis keretek, mempunyai tantangan tersendiri untuk dapat tetap menikmati keretek sehari-hari. Karena setahu saya mengimport keretek adalah hal yang dilarang (baca lebih lanjut tentang keretek, https://www.facebook.com/membunuhindonesia/posts/418338214992655). Akan tetapi tentu ada saja warung tertentu yang menyediakan. Karena sesuatu yang ilegal, maka jarang sekali diketahui keberadaannya. Beruntung saya dapat melacaknya, keretek disini dijual berkisar 5-7 EUR.

Etalase rokok di supermarket. Teguh Hartanto

Solusi lain bagi penikmat keretek di Belanda adalah, pada saat libur pulang ke Indonesia bisa membelinya. Juga kuping harus jeli mendengar kabar jikalau ada teman yang akan berkunjung ke Indonesia dan bukan perokok, kita bisa menitip untuk membelinya.

Suka tidak suka, rokok keretek adalah identitas Indonesia. Bisa dibuktikan kalau kita merokok keretek di jalan, dipastikan orang yang pernah, mengetahui ataupun ada kaitan langsung dan tidak langsung dengan Indonesia dipastikan akan menoleh dan senang (mayoritas dan subyektik) menghirup baunya. Entah itu ingatan rasa ataupun suka.

Peraturan disini juga sudah tidak memperbolehkan merokok didalam gedung umum dan dalam kafe-restaurant. Oleh karena itu pengelola akan selalu menyediakan tempat untuk areal merokok. Untuk tempat tinggal, karena rata-rata rumah-apartement disini relatih kecil, tentu tidak nyaman untuk merokok di dalam ruangan, terutama kalau anda berkeluarga.

Berlaku juga larangan merokok “tembakau” di warung coffeeshop (baca ulasannya disini). Biasanya coffeeshop memberi larangan untuk menghisap tembakau di arealnya. Untuk campuran ganja, mereka menyediakan semacam herbal yang juga bisa dihisap.

Akan beruntung kalau rumahnya dilengkapi dengan beranda ataupun teras. Sementara karena tempat tinggal saya tidak memilikinya, ya terpaksa turun naik untuk menikmati rokok. Jadi tidak bisa ngebul seenaknya. Belum kalau udara diluar terasa dingin sekali, setiap keluar pakaian harus selalu lengkap. Sisi positifnya untuk merokok disini bisa dikontrol penggunaannya.

Sehari biasanya saya menghabiskan 5 batang, saat pagi (itupun tidak dinikmati sambil duduk), siang setelah istirahat makan, sorean setelah pulang kerja dan malam setelah makan, sisanya buat darurat. Mengapa tidak bisa seperti kereta api? karena sulit didapat dan tidak ada ruang untuk menikmati.

Di Belanda juga sangat umum ketika sedang merokok di jalan akan dihampiri seseorang yang meminta sebatang rokok, malah kesannya seperti memalak tetapi tidak memaksa. Masalah bagi saya adalah mereka hanyalah meminta tanpa melanjutkan obrolan. Oleh karena itu setiap ada orang hendak meminta, biasanya cukup bilang habis.

Harta karun keretek. Teguh Hartanto

Okei, itulah sekilas ulasan tentang rokok di negeri Belanda, terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *