Mengenal Kuliner Khas Suriname di Belanda

Penampakan warung Suriname di Amsterdam. Photo Teguh Hartanto

Okei, sekarang saya akan menyajikan reportase tentang kuliner Suriname. Yah, sebagai orang yang menetap di Belanda, Amsterdam khususnya, akan mudah sekali menjumpai tempat makan Suriname dimanapun anda berada di Centraal Amsterdam.

Negara Suriname sendiri terletak pada areal Amerika Selatan. Mayoritas penduduk merupakan bawaan era kolonial seperti dari Afrika, China, India dan tentu saja Jawa-Indonesia. Selebihnya silahkan di google sendiri biar lebih lengkap.

Suriname juga mempunya sejarah kolonial yang sama dengan Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, banyak orang Jawa “terpaksa” merantau ke Suriname pada saat kolonial dan juga “terpaksa” tidak bisa mudik. Hal itu menjadikan orang Jawa yang menetap di sana mewariskan juga kebiasaan dan adat istiadatnya.

Salah satu contoh kebiasaan yang dibawa adalah arah kiblat untuk shalat, kalau di Jawa arah kiblat berarti sekitar ke arah barat, begitupun versi orang oldschool disana tetap ke arah barat walaupun sebenarnya lebih dekat ke sebaliknya.

Okei, sekarang kita balik lagi tentang kuliner Suriname. Seiring perjalanan waktu dan sejarah, banyak makanan Jawa-Indonesia yang menjadi identitas kuliner Suriname. Selain kuliner Indonesia, kuliner Suriname juga banyak dipengaruhi oleh kuliner India dan China.

Karena mempunyai sejarah kolonial dengan Belanda, sekarang di Belanda dan Amsterdam khususnya sangat mudah menemukan orang-orang yang mempunyai akar dari Suriname. Otomatis merekapun membawa serta kebiasaan dan kesukaannya ke negeri Belanda. Yah tentu yang paling utama ya makanan.

Tempat makan Suriname di wilayah Amsterdam sangat mudah sekali dijumpai, komparasinya kalau di Jakarta ya semudah menemukan warteg. Penyebarannya kira-kira hampir sama dengan penyebaran warung makan gaya Indonesia.

Saya sendiri menyukai pergi ke Warung Makan atau Restaurant Suriname, bukan saja karena rasa dan harganya yang relatif murah akan tetapi bagi saya pribadi lebih baik makan di warung makan Suriname, jikalau mereka tidak tepat ketika memasak masakan Indonesia, toh mereka Suriname dan bukan Indonesia. Jadi saya tidak perlu komplain, khusus tentang Rumah Makan Indonesia akan saya tulis secara terpisah.

Okei, apa sajakah kuliner Suriname yang merupakan turunan dari Indonesia ataupun mempunyai kesamaan, cek-cek disini diantaranya:

Bakabana – Pisang Goreng
Biasanya ditemukan dalam menu kategori snack, harga berkisar 2-3 euro per porsi. Setiap porsi berisi 2-3 potong pisang goreng besar, perbedaannya dengan cara penyajian di Indonesia adalah adanya opsi tambahan cocolan saus kacang.

Pisang Goreng, photo: dudoksoulfood.nl

Pitjel – Pecel
Pecel atau lotek biasanya di tiap rumah makan Suriname akan disajikan sebagai menu pembuka kalau kita memesannya, dengan harga sekitar 3-5 euro dan disajikan dalam piring kecil. Umumnya pecel disini terdiri atas kacang panjang, toge dan kol rebus terus disiram dengan saus kacang. Tapi ya jangan dibayangkan sama dengan saus kacang di Indonesia.

Pecel, photo: steemkr.com

Telo Terie – Singkong Goreng
Menu ini berupa snak, berupa singkong goreng empuk dan renyah yang diberi toping ikan teri goreng, disa dibalado terinya atau hanya goreng kering saja. Sebenarnya pilihan toping tidak hanya teri saja, bisa saja berupa saus kacang, akan tetapi toping ikan teri lebih sangat khas Suriname.

Singkong goreng, photo: sranangkukru.net

Saoto – Soto
Penampilannya sama saja dengan rata-rata soto di daerah Jawa Tengah-Jogja (karena orang jawa daerah inilah yang jadi pekerja ke Suriname) bentuknya berupa soto ayam bening dengan tambahan toge, mungkin bihun, telur, keripik kentang dan nasi terpisah pada mangkok kecil. Harganya berkisar 5-7 EUR, sangat murah muriah untuk ukuran makan berat di Eropa.

Nah untuk orang original Suriname, mereka biasanya memakannya dengan tambahan Bakabana, khas orang-orang Afrika yang menjadikan pisang sebagai sandingan menu utama.

Soto + Sate Ayam, photo: gmap.com/Sranang Makmur

Nasi – Nasi Goreng
Penyebutan menu Nasi pada daftar menu di setiap rumah makan Suriname berarti berupa nasi goreng. Kalau hanya nasi putih akan disebut witte rijst.

Nasi goreng biasanya sudah dipersiapkan dengan memasaknya dalam jumlah besar karena nasi goreng merupakan menu nasi favorit buat warga Suriname. Nasi gorengnya jenis yang biasa ditemukan di warung makan china, kemerahan dan sudah ada suwiran daging.

Menu Nasi yang paling favorit adalah Nasi Met Moksie Metie, artinya Nasi Goreng dengan toping daging campur.

Nah kalau yang ini biasanya dapat ditemukan di Indonesia yang disebut Nasi Campur di warung makan china. Dagingnya bisa campuran daging babi (dengan variannya), ayam dan bebek. Harganya berkisar di bawah 10 Euro kita sudah bisa memilih varian lauknya.

Nasi Campur, photo: gmap Kamyin

Model ini juga bisa disajikan dengan Bami – Bakmi, hanya basisnya saja yang berbeda, antara nasi dan mihun.

Oseng-Oseng
Kalau yang jenis oseng-oseng saya belum tahu disebut apa. Yah oseng-oseng juga menjadi ciri khas masakan Suriname. Yang dioseng dan ciri khas kuliner Suriname adalah hati ayam, suwir awam dan udang buncis. Biasanya mereka memesannya sebagai isian roti.

Pilihan di Rumah Makan Suriname, photo gmap Kamyin

Roti
Nah kalau yang ini walaupun bukan langsung dari Indonesia akan tetapi menggunakan kata Roti untuk jenis menunya. Yang dimaksuda Roti disini lebih seperti Roti Aceh, bulat dan datar. Begitupun untuk jenis menunya biasanya dipadukan dengan kentang dan buncis lalu disiram kuah kari, pilihan lauk tergantung selera. Menu Roti lebih merupakan turunan kuliner India.

Tampilan Roti Met Kip, photo: pietashapjes.blogspot.com

Sambal
Masyarakat Suriname juga cukup awam dengan rasa pedas. Untuk tentang sambal perbedaan utamanya hanya dari basis cabai yang digunakan, kalau di Indonesia terkenal dengan cabai rawit dengan variannya. Di Belanda dan Suriname untuk cabai yang terkenal sebagai sambal adalah bernama Madame Jeanette.

Cabai Madame Jeanette, photo: wikimedia.org

Selebihnya menu yang disajikan pada rata-rata rumah makan Suriname merupakan perpaduan masakan India dan China. Kalau untuk masakan chinanya ya sama saja yang biasa kita temui juga di Indonesia.

Oh ya sebelum diakhiri, saya kasih tambahan lagi hasil observasi saya selama tinggal di Amsterdam tentang orang Suriname. Paling mudah untuk mengetahui apakah suatu daerah itu banyak orang Suriname, ya dilihat saja kalau ada apartemen yang ada sangkar burungnya ataupun pria berjalan dan nongkrong sambil membawa sangkar burung, berarti Anda berada dalam kawasan utama Suriname.

Okei, terimakasih sudah mampir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *