Melihat Sampah di Amsterdam

teguh hartanto
Kesibukan truk sampah di Zeedijk Amsterdam, photo: Teguh Hartanto.

Berbicara tentang sampah yang tengah hangat sekarang ini di Jakarta. Saya akan membagi pengalaman tentang “sampah” di Amsterdam. Mengapa saya beri tanda kutip tentang sampah di Amsterdam, silahkan disimak dengan baik hasil pengamatan saya di kota Amsterdam.

Pada hakekatnya di kota Amsterdam mungkin di Belanda secara umum, apabila ada suatu obyek barang yang terletak di luar, bisa di jalanan ataupun tidak melekat di dalam area rumah dan tidak terkunci-digembok, beranti obyek barang tersebut dapat dimiliki dan diambil. Siapa cepat dia akan mendapatkannya. Sepengalaman saya, kecuali tanaman dalam pot dan pohon saja saya tidak pernah mendengar ada kompalin akan kehilangan.

Jadi apabila kita menemukan obyek barang tersebut sesuai kriteria di atas, kita dapat dengan senang hati boleh memilikinya. Obyek barang bisa saja berupa furniture (lemari, meja, kursi, kasur etc), sepatu, lukisan, perkakas, mungkin sepeda etc.

Menunggu tuan yang baru, Teguh Hartanto.

Kesemua barang tersebut biasanya diletakan di jalan, menunggu waktunya penjemputan untuk menjadi sampah sebenarnya. Untuk di daerah saya di sekitar Amsterdam Centraal, hari penjemputan sampah mendapatkan jatah hari Senen dan Kamis. Sampah cukup di taruh di jalan pada waktunya dan yang sudah menjadi kesepakatan tak tertulis untuk dimana diletakan.

Mengapa banyak barang “berharga” yang dibuang begitu saja di sini, itu dikarenakan rumah disini relatif kecil-kecil jikalau tak mau dibilang mini. Jadi ketika suatu rumah tangga butuh penyegaran furniture yang baru, maka barang yang lama akan direlakan. Yah karena juga tidak punya tempat lagi untuk menampungnya.

Salah satu spot untuk terminal sampah di Oudeshans Amsterdam, Teguh Hartanto.

Bisa jadi untuk isi dalam rumah tangga (terutama untuk pelajar) di Amsterdam adalah berupa barang-barang hasil dari jalanan. Karena barang-barang yang dapat ditemukan bisa saja masih merupakan kualitas yang baik dan bagus serta mempunyai harga.

Kalau mau ditambah sedikit niat berbisnis, kita juga bisa mengambil dan menjualnya kembali lewat internet, mungkin lewat web jual beli ataupun page Facebook khusus barang second. Malahan ada page di Facebook yang mengkhususkan informasi tentang barang berharga di jalanan yang dapat diambil secara gratis.

Di jembatan sekitaran Zeedijk Amsterdam, Teguh Hartanto.

Selain itu tujuan orang menaruh barang di jalanan bisa juga niat sosial untuk berbagi, karena dijamin untuk barang yang masih layak pakai dan baik pasti akan berpindah tangan kepemilik yang baru tanpa menjadi sampah.

Untuk dapat merasakan sebagai “pemulung” barang berharga di Amsterdam, dapat merasakan pengalamannya malam hari sebelum penjemputan sampah sampai pagi pada hari H penjemputan. Tidak perlu malu untuk menjadi pemburu sampah, tidak ada kesinisan disini, urusan masing-masing aja. Malahan kita akan bersaing dengan pemulung sebenarnya yang didominasi oleh orang-orang dari Eropa Timur.

Kesibukan di Zeedijk Amsterdam, Teguh Hartanto.

Sampah
Kembali lagi tentang sampah sebenarnya, idealnya yang disebut sampah adalah barang bekas dan tidak terpakai yang dihasilkan secara harian oleh rumah tangga, yah paling mudah berupa hasil limbah dapur. Atau silahkan artikan sendiri tentang sampah dengan bijaksana.

Para penduduk sendiri diharapkan untuk memisah dan memilah sampah sendiri, seperti untuk campuran limbah dapur, kertas, plastik, botol, alat elektronik, minyak, dan sandang layak pakai. Karena kesemua kriteria tersebut terdapat tempat khusus berupa kontainer untuk menampungnya.

Khusus untuk gelas dan kertas, Teguh Hartanto.

Kontainer sampah paling mudah ditemukan di mana-mana di lingkungan kota Amsterdam adalah tempat sampah khusus campuran, kertas dan botol. Untuk sisanya, diharapkan penduduk jeli untuk mengetahui lokasi keberadaannya. Misalnya khusus untuk pembuangan batu baterai biasanya supermarket besar telah meyediakan tempatnya.

Kontainer untuk sandang layak pakai dan plastik, Teguh Hartanto.

Untuk pemisahan sampah, penduduk disini yah “relatif” sadar saja kalau mau dibandingkan dengan negeri Jepang yang terkenal lebih sadar. Semua tergantung pada wawasan penduduknya sendiri. Masih banyak juga yang akan menjadikan satu semua menjadi sampah campuran dengan limbah dapur.

Punya kesadaran tentang lingkungan, bisa jadi didapat oleh informasi wawasan tentang limbah dan kemudahan menemukan tempat sampah yang spesifik untuk barang yang dibuang. Diluar itu sepengamatan saya yah sama aja dengan orang dimanapun.

Sampah dari horeca di Zeedijk Amsterdam, Teguh Hartanto.

Kota Amsterdam yang secara umum relatif bersih walaupun dikunjungi banyak turis adalah berkat jasa petugas kebersihan yang sigap di mulai dari subuh sampai malam untuk bertugas. Karena Amsterdam yang dipadati turis tentu akan menghasilkan sampah yang luar biasa banyak.

Khusus untuk kawasan turis berkaitan dengan sampah kalau mau diperbandingkan yah lebih nyata untuk melihat kebiasaan secara umum masyarakat di dunia ini, masih sangat jauh akan kesadaran tentang sampah dan lingkungan. Jadi jangan sedih, masih banyak temen-temennya bagi masyarakat Indonesia.

Truk sapu bersih, Teguh Hartanto

Diluar itu keberhasilan warga penduduk di negeri Belanda tentang kesadaran akan sampah dan lingkungan adalah informasi tentang hal tersebuat yang terus disebar dan dengungkan, terutama oleh media arus besar dan sekolahan. Jadi diharapkan masyarakat akan semakin sadar akan lingkungannya.

Jadi bisa dibayangkan untuk perbandingan masyarakat di Indonesia tentang kesadaran akan sampah dan lingkungan, masih jauh boo. Lihat saja informasi umum di media besar utama yang ditemui sehari-hari, masih sibuk tentang gosip, hoax, sekterian, korupsi dan politikus busuk. Yah berarti otomatis tahu sendiri yang dihasilkan.

Usul saya kalau mau lebih baik tentang urusan lingkungan adalah terus-terusan memberikan informasi tentang sampah dan lingkungan di sekolah-sekolah pada pagi hari. Belajar positif dari bapak propaganda Internasional Joseph Goebbels, apapun yang didengungkan terus meneruh akan menjadi kesadaran.

“too much propaganda”, Teguh Hartanto.

Suka atau tidak suka, untuk mengukur tingkat pondasi keberhasilan suatu negara, tidak usah pusing-pusing dengan banyaknya kriteria yang abstrak, cukup dilihat akan kesadaran masyarakat tentang lingkungannya, yah tentu bagaimana bijaknya memperlakukan sampah.

Mau contoh tentang keberhasilan suatu pondasi negara, ambil saja contohnya di kawasan negara yang selalu berkonflik, silahkan tanyakan ke orang-orang Bogor di Puncak, bagaimana kelakuan tamu-tamu yang pada berkunjung kesana. Okei, begitu aja dan makasih sudah menyimak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *