“Fiets” Sang Raja Jalanan

fiets-1
Suasana lalu-lintas dan parkir sepeda. Photo: Teguh Hartanto

Kalau di Indonesia raja jalanan layak disandak becak, di Belanda para pengenjot sepedalah yang menyandang sebagai raja jalanan, jangan macam-macam sama para komuter sepeda. Pengguna jalan lainnya akan selalu memprioritaskan para pesepeda. Kalau tidak terlalu mahir naik sepeda, jangan coba-coba naik sepeda terutama pada jam-jam sibuk, bisa-bisa kena semprot. Karena kota Amsterdam sebagai tujuan wisata dan banyak turis yang tidak mahir naik sepeda, membuat warga lokal tidak menyukainya. Negeri Belanda merupakan dataran flat dan cendrung horizontal saja, maka akan nyaman untuk selalu bersepeda, tanjakan yang ada palingan cuma jembatan saja. Jumlah sepeda total jendral di Belanda adalah melebihi jumlah penduduknya sendiri yang sekitar 17 juataan. Sepeda menjadi alat vital transportasi, baik itu untuk bekerja, kuliah, sekolah, belanja dan seterusnya.

Walaupun di Belanda khususnya Amsterdam tersedia berbagai macam pilihan transportasi publik seperti bis, kereta, metro, trem, sepeda tetaplah menjadi pilihan utama. Selain gratis dan murah meriah, bagi orang Belanda haram hukumnya untuk melakukan pemborosan, berlaku untuk semua status sosial.

Di Belanda, khususnya di kota, pasti tersedia jalur dan rambu khusus buat sepeda. Sedangkan kompetitor sepeda adalah sepeda motor matik karena berbagi jalan khusus buat sepeda, seiring tahun mulai banyak juga yang mengendarai matik tetapi sekarang mulai marak juga penggalangan mosi untuk menyingkirkan matik dari jalur sepeda, dikarenakan pengendaranya banyak yang ugal-ugalan dan juga polusi udara.

Jenis sepeda ada berbagai macam, yang paling umum ya jenis city bike (omafiets, studentfiets, retrofiets etc), trus disusul jenis onta – jengki (baik keluaran lama ataupun keluaran baru), balap, fixie, bakfiets etc. Merk yang jadul dan popular di Indonesia seperti Gazelle, Relight, Hercules, Sparta masih tetap berkeliaran disini dan bukan merupakan barang yang klasik istimewa, biasa saja.

fiets-2
Sepeda di Amsterdam. Photo: Teguh Hartanto

Untuk mengunci sepeda secara baik dan benar ;-), minimal harus mempunyai dua kunci, satu kunci yang jenis menempel pada body sepeda dan akan mengunci roda belakang (di Indonesia juga umum digunakan sepeda keluaran jadul) kunci lainnya berupa rantai besar dan gembok yang digunakan mengunci body dan roda depan pada sandaran besi di tempat parkir sepeda. Yah disini pencurian sepeda adalah sesuatu yang lumrah, sama saja seperti kehilangan sandal waktu jum’atan, diantara penting tetapi kadang menyepelekannya. Saya sendiri pernah mengalami dua kali kehilangan sepeda selama di Amsterdam, belum lengkap tinggal di Belanda kalau tidak pernah kehilangan sepeda. Pertama karena lupa mengunci pada saat belanja di supermarket, dalam 5 menit raiblah sepeda. Yang kedua hanya terlalu pede, cuma mengunci satu kunci saja tanpa gembok rantai, pagi-pagi mau berangkat kerja baru nyengir.

fiets-3
Suasana parkir sepeda. Photo: Teguh Hartanto
Harga sepeda baru yang bagusan sekitar kurang lebih 500 EUR, tetapi jika hendak membeli 2nd hand, harga dimulai dari 30 EUR, sesuai kondisi dan asal muasal sepedanya sendiri. Dekat tempat tinggal penulis ada Pasar Waterlooplein yang terkenal sebagai pasar loak, disitu kita bisa mencari sepeda 2nd dengan mudah dan harga miring (tapi ya tergantung tampang orang yang beli juga) karena sebagai pasar loak terbesar dan regurel di Belanda juga terkenal sebagai pasar maling (walaupun tidak semua, khususnya terkenal barang tidak jelas untuk kategori sepeda saja, mungkin sepatu 😉 Nanti coba fokus buat tulisan tentang Pasar Waterlooplein pada tulisan lainnya.

fiets-4
Bakfiets, photo; screenshot google image
Bagi yang berkeluarga dan mempunya anak dengan menggunakan sepeda tidaklah masalah, kalau hanya anak satu sih mudah saja, biasanya ada kustom boncengan baik itu di bagian depan ataupun di belakang, lalu kalau punya anak dua, bisa juga sepedanya dikasih boncengan depan dan belakang. Nah kalau punya anak dua atau lebih biasanya keluarga tersebut memiliki bakfiets, ya seperti gerobak terus ada sepedanya dibelakang, agak berbeda dengan becak. Bentukny dan kegunaannyapun bermacam-macam, mulai untuk angkut anak sampai dengan angkut barang.

Okei, selamat menikmati bersepeda juga di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *