De Wallen, Sarkemnya Amsterdam!

Suasana padi di De Wallen. Photo: Teguh Hartanto

Sekarang saya coba mereportase tentang kawasan Red Light District di Amsterdam, khususnya De Wallen. Sengaja photo yang dilampirkan adalah suasana pagi saja, toko-toko belum pada buka 😉 Juga dikarenakan tidak mudah mengambil photo pada jam buka, bisa-bisa kena gertak. Biasanya kesibukan di pagi hari berupa bersih-bersih kamar oleh housekeeping, pengambilan sampah oleh truk sampah dan kesibukan antar barang dengan truk-truk besar, seperti: minuman, kebutuhan caf, stock barang etc. Rumah-rumah yang berada dalam kawasan tidak hanya sebagai tempat prostitusi tetapi juga menjadi rumah-apartement umum, mungkin keluarga ataupun tidak. Mereka yang tinggal di kawasan ini sudah bermental baja, bukan dengan godaan tetapi karena kebisingan di malam hari.

Untuk lokasi, biar bisa terbayang oleh pembaca di Indonesia, karena bagaimanapun juga tata letak kota di Indonesia masih warisan dari era kolonial. Red Light District–De Wallen berada di sekitar:

  • Stasiun Central Amsterdam, berarti bayanginnya seperti yang di Jogjakarta. Kenapa letak prostitusi selalu dekat stasiun, silahkan cari tau sendiri aja.
  • Damsquare, ya kira-kira alun-alun utama, satu kawasan dengan ini ada monumen, palace — keraton (tapi tidak ditinggali), dulunya Kantor Pos Besar, Niuwe Kerk (Gereja “Agung” Baru) –  berarti sama aja dengan Masjid Agung di Indonesia. Trus kalau bank saya nggak tahu dimana. Damsquare biasanya digunakan sebagai acara formal seperti kalau di Indonesia upacara 17an Agustusan dan sejenisnya dan juga non formal seperti pasar malam.
  • Kalau Oude Kerk (Gereja Lama) malahan jadi satu dengan areal De Wallen karena ya tempatnya disitu. Sekarang hanya sebagai museum dan penyelenggaraan pameran. Biasanya WordPress Photo pameran disini.
  • Kalau semacam dermaga kapal laut juga ada, terakhir tahunya cuma buat berlabuh kapal pesiar yang besar-besar, tetapi tahun ini sudah tidak aktif lagi. Lokasinya dekat dengan stasiun.
  • Chinese town, ditandai dengan adanya kelenteng dan mudah untuk mendapatkan warung-toko asia.

Semua lokasi diatas bisa ditempuh dengan cukup serokokan ataupun sudah menyatu saja, sori bagi yang tidak merokok silahkan tanya aja. Jangan lupa juga, Belanda adalah negara yang kecil.

Dari mulut jalan tampak dari kejauhan palace. Photo: Teguh Hartanto

Selain daerah prostitusi dengan temaram warna merah dari kamar-kamar yang dijadikan etalase, di kawasan ini juga terdapat bar, cafe, hotel, sex shop, live show, museum, coffeeshop, tattoo shop, fast food, yah kira-kira yang cocok buat turis dah. Gampangnya malahan kalau mau cari makanan halal di central lebih mudah disini, tanya kenapa?

Bagi warga Belanda sendiri keberadaannya tidak disukai tetapi mereka juga mendukung adanya legalisasi prostitusi, setahu saya kegunaannya (tidak bermaksud melecehkan tetapi hanya menyampaikan realita saja)

  • Daripada tidak dilegalkan, tahu sendiri akibatnya bagaimana.
  • Memfasilitasi yang tidak bisa mengendalikan libido.
  • Yah suka tidak suka, diluar yang terpaksa dan terjebak, ada juga yang menikmati pekerjaan ini. Jadi membuka tenaga kerja dan bisnis (otomoatis merembet ke lainnya).

Oh ya, para penjaja disini setahu saya, tersedia berbagai macam bentuk-fisik-ras, yah untuk libido tidak bisa disamaratakan, mungkin tersedia semua. Untuk mafia yang ada (walaupun legal, tetap ada mafia yang bermain), tentu para geng dari Eropa Timur, bisa juga geng motor besar.

Mayoritas pengunjung adalah pria, walaupun perempuan juga banyak. Biasanya mereka datang karena penasaran saja, biar afdol bagi para turis kalau traveling ke Amsterdam minimal sudah pernah lewat. Untuk urusan harga dan detailnya cuma bisa tebak saja mungkin dimulai sekitar 50 EUR. Kalau tingkat kelarisan kurang jelas, yang membuat kawasan ini meriah karena adanya bar dan coffeeshop (sebagai informasi, semakin kisini etalase yang ada semakin menyusut). Biasanya menjelang sore mulai banyak yang lewat sampai menjelang malam. Merupakan sesuatu yang eksotik juga dengan melihat bangunan tua disertai temaram lampu merah di setiap jendela etalase. Kalau malam weekend, full dah, setara sama kawasan Malioboro.

Suasana sebelum keramaian. Photo: Teguh Hartanto

Pada jam sibuknya menuju kawasan De Wallen jalan bisa padat merayap untuk para pejalan kaki, inilah kawasan yang dihindari sang raja jalanan. Hal biasa untuk mendengar teriakan teriakan agresif dari orang mabuk, dari mereka yang pesta bujang-perawan (cewe cewe juga kalau sudah mabuk dan bikin ulah ya sama saja) sampai para hooligan (kalau ada pertandingan besar) yang sengaja kesasar ke De Wallen. Untuk keamanan, polisi juga aktif hilir mudik di kawasan ini, dari yang jalan, naek sepeda, kuda-kudaan dan juga moge, sebenarnya cctv tersebar merata di kawan ini. Biasanya kalau ada yang sudah keterlaluan dan tidak bisa dikendalikan, baru polisi siap untuk ngandangin. Stereotype-nya: Seorang turis berjalan kaki, tangan satu menjinjing sepatu kelom yang satuanya pegang join, bertanya ke polisi dimana lokasi prostitusi — De Wallen. Yah tentu saja polisi akan membantu menunjukan arah jalan yang benar. Artinya hal-hal tersebut adalah sesuatu yang lumrah saja, bukan luar biasa.

Untuk gambaran lebih lengkap kalau punya internet kencang, silahkan jalan-jalan via google map, cukup ketik De Wallen lalu telusuri gang-gang yang ada, enjoi!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *