“Coffeeshop” di Belanda

Penyebutan Coffee Shop di Belanda bukan berarti tempat warung kopi saja tetapi merupakan warung kopi plus menjual ganja, hasis dan selevelnya (sebagai menu utama). Karena selain menjual ganja dan teman-temannya Coffee Shop  juga menyediakan hidangan kopi, teh, minuman ringan, snack dan lainnya sebagai menu sekunder. Tetapi tidak boleh menjual alkohol seperti bir, wine ataupun spirit, hal ini merupakan aturan dasar untuk tempat Coffee Shop (takut nanti banyak yang nafsu untuk mabuk kombi). Setahu saya tidak semua kota – propinsi di Belanda memperbolehkan ada Coffee Shop (kalau hanya sebatas memakai di Belanda boleh saja dimanapun berada).

Dari beberapa informasi, tujuan utama mengapa ganja dilegalkan adalah untuk melawan – menekan perdagangan ilegal. Karena kalau tidak secara resmi dilegalkan berarti semua uang hasil transaksi tidak terkontrol dan hanya masuk ke dunia kriminal saja, tetapi dengan dilegalkan dan tentu ada pajak penjualannya, berarti uang hasilnya juga bisa dinikmati secara bijaksana. Selain itu dikarenakan ganja tidaklah berbahaya dibanding tipe lainnya yang memabukan 😉 Dengan dilegalkan ganja di Belanda, malahan tingkat pemakaian masyarakatnya lebih rendah daripada negara yang melarangnya, silahkan cek sendiri dah.

Setahu saya juga tidak semua orang suka akan efek yang dihasilkannya. Yah kalau mayoritas anak ABG penasaran mencoba memakai ya itu sangat wajar sekali karena rasa keingintahuannya. Seterusnya secara umum tergantung pada kesukaan masing-masing orang. Tapi kalau legalisasi ganja mau diterapkan di Indonesia sekarang ini sangatlah sulit sekali karena butuh kesadaran dari masyarakatnya dulu, setahu saya banyakan yang tidak sadar jadi ya nggak butuh lagi ganja.

Biasanya bentuk Coffee Shop di area turis seperti di daerah Central Amsterdam ya seperti cafe pada umumnya, desain tempat yang menarik, menu seperti biasanya cafe dan meja – tempat duduk untuk menikmati. Berbeda halnya untuk Coffee Shop di luar lingkungan turis, biasanya cuma semacam warung kecil tanpa ada tempat duduk karena pembelinya mayoritas lokal, kalau dibayangin seperti apotek kecil saja.

Untuk Coffee Shop di lingkungan turis biasanya mereka menampilkan nama menu yang semenarik mungkin, misalnya berdasarkan bibit asalnya (tetapi ya ini hanya permainan marketing saja) bisa juga berdasarkan tingkat efeknya, mulai dari yang memberi sugesti slow ataupun aktif. Untuk penyajiannya bisa sudah dilinting dan di branding ataupun linting dewe. Harga jual tergantung berat gram dan jenis, tarohlah dimulai sekitaran 5 – 10 EUR. Coffee Shop di areal turis biasanya berdiri semacam satpam yang akan menanyakan ID – passport, pengunjung Coffee Shop dan usia minimal yang diperbolehkan mengkonsumsi minimal harus 18 tahun ke atas.

Amsterdam sebagai tujuan destinasi wisata tentu memiliki banyak tempat Coffee Shop, karena suka atau tidak suka hal inilah yang menjadi tujuan wisata terutama kaum muda dari seantero dunia, kombinasi dengan Red Light District tentunya (nanti akan menyusul lagi tulisan mengenai ini). Walaupun kombinasi wisata ini tidaklah disukai oleh warga Amsterdam – Belanda asli, memalukan kata mereka. Yah para turis coba membeli kebebasan dengan berwisata ke Amsterdam – Belanda.

Oleh karena itu di pusat wisata akan mudah tercium aroma ganja yang khas. Lalu yang tampak biasanya adalah anak muda yang ketinggian — kelebihan dosis usai mengkonsumsi, karena disini bebas dan relatif murah. Biasanya bagi turis yang awam dan sangat bernafsu akan memakai dosis yang berlebihan, maka akan ditemukan muntahan ataupun orang dengan pandangan kosong.

Itulah sekilas tentang Coffee Shop – ganja di Belanda, nanti akan coba mengupas lebih tentang mirasantika di Belanda.

ps. sori tidak sempat photo sendiri, apologinya lumayan dingin, dengan gmap jadi lebih dimanja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *